Diberitakan sebelumnya IMH depresi karena diduga menjadi sandwich generation. Setelah lulus SMK IMH bekerja, dan menghidupi ibu hingga adiknya. Ia juga menyisihkan uang dari bekerja itu untuk meraih impiannya, kuliah. Namun sayangnya impian itu tak didukung sang ibu hingga membuat ia depresi.

Lalu pada Jumat (25/7/2025) sore, IMH berjalan keliling ke gang-gang kampung sambil membawa sabit. Ia keliling untuk mencari ibunya yang tidak ada di rumah. Ia mengira sang ibu sembunyi di rumah milik, Winarsih (63). Namun saat masuk ke rumah Winarsih, IMH tidak mendapati ibunya. Kemudian, karena tidak menemukan ibunya, IMH yang mengalami depresi itu, kemudian membacok sapi milik Winarsih, yang ada di kandang.

Saat itu, Winarsih tengah berada di belakang rumah memandikan cucunya. Sehingga Winarsih pun tidak tahu saat IMH masuk ke dalam rumahnya. Winarsih sempat mendengar suara sapinya berontak. Tetapi, dia tidak menyangka kalau itu akibat dari IMH yang membacok kepala sapinya. Mendengar sapinya berontak, Winarsih berhenti memandikan cucunya, untuk mencoba mengeceknya ke kandang.

Dari depan pintu kandang, Winarsih melihat IMH berada di kandangnya, dengan membawa sabit. Winarsih mau masuk ke kandang, sedangkan IMH hendak ke luar kandang. Sehingga keduanya sempat berpapasan. Berdasarkan informasi yang diterimanya, Winarsih menyebut IMH datang ke rumahnya, untuk mencari ibunya yang sembunyi.

“Kabarnya dia sedang cari ibu nya, yang dikira sembunyi. Tapi kan ternyata sembunyinya bukan di sini, tapi di rumah tetangga yang lain,” terangnya.

Winarsih, menyampaikan ibunya sembunyi lantaran, sempat diancam sang anak akan dibunuh.

Ia pulang ke rumah karena kontrak kerjanya di Kalimantan sudah habis.

Kemudian, IMH pulang ke rumah untuk meminta restu kepada sang ibu, untuk melanjutkan kuliah.

IMH merupakan tulang punggung keluarga. Bapaknya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.

Setelah lulus STM, IMH langsung bekerja ke Kalimantan. Selama bekerja, ia selalu mengirimi uang ke ibu, dan adiknya. Gaji dari kerja, juga ditabung untuk rencana melanjutkan kuliah.

Namun, saat IMH pulang ke rumah dan meminta izin ibunya untuk kuliah, sang ibu tidak merestui.

Sang ibu khawatir, tidak bisa membiayai kebutuhan bulanan sang anak selama kuliah.

Sejak itulah, IMH mulai depresi. Ia sering melamun, dan tatapannya sering kosong. IMH dibawa ke Rumah Sakit Jiwa di Rembang, sekira pukul 20.00 WIB, dan sampai di Rembang pukul 21.00 WIB.

Kemudian, sesampainya di Rumah Sakit Jiwa, IMH diberi obat penenang, dan dilakukan penanganan medis. Kemudian disimpulkan, IMH mengalami depresi berat.  Muhyiddin menyampaikan saat ini IMH masih terduga pelaku. Menurutnya saat ini posisi IMH sudah berada di Polres Blora.

“Jadi masih terduga pelaku. Tadi malam sejak saya pulang dari ngantar RS. Bhina Bhakti Husada Rembang, di rumah sakit jiwa, saya ada sampai rumah itu kira-kira jam 23.00 WIB. Kemudian ditanya sama bapak-bapak aparat saat saya jawab apa adanya.”

“Terus saya dapat kabar, bapak aparat itu dari Resmob Blora langsung mengambil paksa (IMH) dari rumah sakit jiwa itu. Jadi yang bersangkutan sudah masuk di Polres Blora, sampai sekarang,” terangnya.

Sementara itu, Kasihumas Polres Blora, AKP gembong Widodo, menjelaskan, masih mendalami kejadian tersebut.

“Kasus ini masih ditangani Satreskrim polres blora untuk mencari motif maupun terduga pelaku,” katanya, saat dikonfirmasi Tribunjateng, Sabtu (26/7/2025).

Sementara itu, Kapolsek Tunjungan, AKP Subiyono, menambahkan dugaan sementara kematian masih didalami oleh Kepolisian.

“Setelah menerima laporan atas kejadian itu, kami tim gabungan dari Polsek Tunjungan, Satreskrim Polres Blora, Inafis Polres Blora, dan Satintelkam Polres Blora segera mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan olah TKP dan pemeriksaan saksi-saksi,” jelasnya.

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan korban meninggal dunia dengan dua luka sayat di leher dan muka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *