SRITEX, salah satu perusahaan tekstil terbesar di Indonesia, resmi mengumumkan penutupan operasionalnya per tanggal 1 Maret 2025. Keputusan ini mengakibatkan ribuan buruh di seluruh cabang perusahaan tersebut terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal. Penutupan yang tak terduga ini mengejutkan banyak pihak, termasuk para pekerja yang telah mengabdi bertahun-tahun di perusahaan tersebut.
Menurut manajemen SRITEX, penutupan ini disebabkan oleh berbagai faktor yang mengganggu kelangsungan usaha, termasuk penurunan permintaan pasar global, peningkatan biaya produksi, serta kesulitan dalam mendapatkan bahan baku yang stabil. Meskipun perusahaan telah berusaha mencari solusi untuk menjaga operasional, mereka mengungkapkan bahwa situasi ekonomi yang tidak mendukung membuat langkah ini menjadi pilihan yang harus diambil.
Diperkirakan, lebih dari 10.000 pekerja yang tergabung dalam berbagai divisi SRITEX akan kehilangan pekerjaan mereka akibat penutupan ini. Para buruh yang terkena PHK mengungkapkan rasa kecewa dan kesedihan mendalam, karena SRITEX telah menjadi sumber mata pencaharian utama mereka selama bertahun-tahun. Beberapa pekerja juga menyatakan bahwa mereka merasa belum mendapatkan informasi yang cukup mengenai hak-hak mereka pasca-PHK, termasuk kompensasi dan bantuan penempatan kerja.
Pemerintah setempat melalui dinas tenaga kerja dan pihak terkait telah turun tangan untuk memberikan bantuan berupa pelatihan keterampilan dan pencarian peluang kerja baru bagi para pekerja yang terkena PHK. Namun, ketidakpastian ekonomi yang melanda industri tekstil membuat masa depan pekerja SRITEX masih penuh tantangan.
Keputusan penutupan SRITEX ini tidak hanya berpengaruh pada buruh, tetapi juga pada sektor ekonomi lokal, di mana banyak usaha kecil dan menengah yang bergantung pada keberlanjutan operasional perusahaan tersebut. Organisasi buruh juga telah meminta agar perusahaan memberikan transparansi penuh mengenai proses PHK ini serta memastikan bahwa hak-hak buruh dipenuhi sesuai ketentuan yang berlaku.
Kondisi ini menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi oleh sektor industri tekstil di Indonesia, yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami tekanan berat dari kompetisi global dan krisis ekonomi. Para pihak berharap agar langkah-langkah mitigasi yang lebih efektif dapat diambil untuk mengurangi dampak negatif bagi para pekerja dan masyarakat sekitar.